Ilmuwan Ciptakan Babi Ramah Lingkungan

Hewan ini memiliki rasa yang sama dengan babi biasa. Namun, tidak seperti hewan peternakan biasa, babi genetis dirancang untuk lebih murah dan tidak mencemari lingkungan.

https://bengkelsainsandtechno.files.wordpress.com/2011/01/ilmuwan2bciptakan2bbabi2bramah2blingkungan.jpg?w=300
Babi tersebut merupakan generasi pertama Frankenswine, babi hasil rekayasa genetika. Pencipta babi yang diberi nama Enviropig mengatakan bahwa hewan tersebut mengeluarkan lebih sedikit fosfor daripada hewan normal yang gemar berendam di lumpur itu.

Pada akhirnya, Enviropig tidak akan mencemari sungai, danau dan mata air lainnya. Seperti makhluk hidp lainnya, babi membutuhkan fosfor sebagai pembentuk enzim fitase untuk pola makan mereka sebagai materi pembentuk tulang, gigi dan dinding sel.

Babi ternak biasa diberi makan sereal yang mengandung tipe fosfor yang tidak bisa dicerna oleh tanah. Kebanyakan peternak harus memberi enzim fitase tambahan ke babi.

Sayangnya, enzim fitase tidak dapat memutus rantai fosfor sehingga banyak materi ini yang terbuang kembali ke luar tubuh babi. Pupuk yang kaya fosfor dapat masuk ke pasokan air sehingga memicu keberadaan ganggang. Tanaman ini dapat menghambat kehidupan air sehingga memicu zona tanpa ikan.

Berbeda, Enviropigs didesain untuk memproduksi enzim fitase mereka sendiri. Para peneliti mengambil gen yang bertanggung jawab untuk menciptakan fitase dari bakteri E-coli lalu ditambahkan dengan gen hasil rekayasa genetis.

Dalam percobaan tersebut, Enviropig mampu menyerap lebih banyak fosfor sehingga limbah yang mengandung zat berbahaya itu tidak banyak keluar dari tubuh babi.

Salah satu pencipta babi genetika ini, Profesor Rich Moccia dari University of Guelph di Ontario, Kanada mengatakan, “Babi ini sangat ramah lingkungan. Mereka tumbuh dan berprilaku sangat normal.”

Sayangnya, Vicky Hird dari organisasi Friends of the Earth mengatakan bahwa keberadaan Enviropig merupakan ironi besar.

“Babi yang dipelihara di suatu tempat intensif tidak bisa cocok dengan lingkungan alami karena mereka membutuhkan begitu banyak konsumsi keledai yang ditanam dengan membuka hutan. Akibatnya, semakin banyak gas rumah kaca.” (inilahCom)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: